Senin, Maret 09, 2009

Mengenal Generasi GSM



Generasi Pertama (1G)

Hampir semua teknologi dimulai untuk keperluan militer yang kemudian dipergunakan untuk umum. Sama halnya dengan perkembangan teknologi GSM. Waktu 1G pendek di dalam perkembangan teknologi telepon mobile. 1G berupa telepon analog yang diperkenalkan pada tahun 1980an dan dilanjutkn sampai digantikan dengan generasi kedua (2G) yang berbentuk digital. Beberapa generasi pertama mengikuti standar NMT (Nordisk MobilTelefoni atau Nordiska MobilTelefoni-gruppen), CDPD (Celluler Digital Packet Data, Mobitex and DataTAC).

Generasi Kedua (2G – 2.75G)

Perbedaan utama antara dua sistem telepon mobile yang sukses ini yaitu 1G dan 2G adalah sinyal radio yang digunakan. Jaringan 1G mengunakan analog sedangkan 2G adalah digital. Percakapan dalam 2G diencode menjadi sinyal digital, tapi dalam 1G hanya dimodulasi ke frekuensi yang lebih tinggi (150 MHz ke atas). Terdapat dua standar besar dan kuduanya komersial, yaitu: dari Eropa dan dari America. Sekitar 60% sekarang dikuasai oleh pasar dari standar Eropa. Yang termasuk dalam generasi ini adalah:
  1. GSM (Global System for Mobile Communications) adalah standar paling populer untuk telepon mobile di dunia. Layanan GSM digunakan lebih dari 2 milyar orang di 212 negara dan kawasan. Jumlah negara yang banyak mengadopsi standar GSM memungkinkan kerjasama antar operator sehingga dapat digunakan untuk komunikasi user antar negara walaupun dengan operator yang berbeda. GSM bebeda dengan pendahulunya dalam jalur pensinyalan dan percakapan semuanya dalam bentuk digital. Fakta ini juga berarti komunikasi data telah dibangun dalam sistem.
  2. GPRS (General Packet Radio Service) adalah layanan data mobile yang tersedia pada telepon GSM. GPRS sering disebut sebagai generasi “2.5G”, yaitu teknolgi antara generasi pertama dan generasi kedua dalam teknologi telepon mobile. Dibandingkan dengan pendahulunya GPRS memiliki transfer data yang cepat. GPRS memanfaatkan kanal TDMA yang tidak terpakai pada jaringan GSM. Dalam teori terbatas untuk paket data 171.2 kbit/s (menggunakan 8 slot dan CS-4 coding). Realisasinya bit rate nya adalah 30-80, karena memungkinkan menggunakan maksimal 4 slot untuk downlink.
  3. EDGE (EGPRS) (Enhanced Data rates for GSM Evolution) adalah teknologi telepon mobile yang memperbaiki jaringan 2G dan 2.5G khususnya dalam jalur komunikasi data. Teknologi ini bekerja pada jaringan GSM. EDGE dapat bekerja pada janringan GPRS ada.
  4. HSCSD (High-Speed Circuit-Switched Data), iDEN (Integrated Digital Enhanced Network, D-AMPS (Digital AMPS), IS-95, PDC (Personal Digital Cellular), CSD (Circuit Switched Data), PHS (Personal Handy-phone System), WiDEN (Wideband Integrated Dispatch Enhanced Network) and CDMA2000 (1xRTT/IS-2000).

Generasi ketiga (3G – 3.75G)

Layanan luar biasa 3G memberikan kemampuan untuk mentransfer secara simultan baik data voice dan non-voice data (seperti saat download informasi, pertukaran email dan instant messaging). Standar 3G di dalamnya adalah:

  1. UMTS (3GSM) (Universal Mobile Telecommunications System) menggunakan W-CDMA di bawah standar 3GPP. UMTS mempunyai layanan data secara teori sampai 11 Mbit/s, meskipun dalam perkembangannya yang disebarkan ke user dalam jaringan performanya hanya mencapai 384 kbit/s untuk handset R99 dan 1-2 Mbit/s untuk handset HSDPA untuk koneksi downlink.
  2. 3.5G – HSDPA (High-Speed Downlink Packet Access) adalah protokol dalam telepon mobile berbasis jaringan UMTS 3G yang menyediakan transfer data yang lebih cepat. Sekarang HSDPA yang dipasang mendukung 1.8 Mbit/s sampai 3.6 Mbit/s saat downlink. Untuk kedepannya direncanakan mencapai 7.2 Mbit/s.
  3. W-CDMA (Wideband Code Division Multiple Access), FOMA (Freedom of Mobile Multimedia Access), 1xEV-DO/IS-856 (1x Evolution-Data Optimized), TD-SCDMA (Time Division-Synchronous Code Division Multiple Access), GAN/UMA (Generic Access Network), 3.75G – HSUPA (High-Speed Uplink Packet Access).
Pada dasarnya layanan HSDPA tidak beda jauh dengan layanan yang diberikan oleh generasi sebleumnya yaitu: GPRS, CDMA, EDGE dan 3G. Teknologi tersebut memiliki kesamaan bahwa sama-sama menggunakan layanan lewat jalur IP (internet protokol). HSDPA diperkenalkan oleh Third Generation Partnership Project (3GPP) release 5standar. Tujuan utamanya adalah meningkatkan standar througput melalui konsep multiple input multple output (MIMO) atau dengan teknik antena array. Proses kerja cell menggunakan alokasi asymetrics spectrum frekuensi dalam multi carries cell. Efisiensi dari sistem menjadi dua kalilipat, yang artinya juga meningkatkan persepsi pelanggan terhadap kualitas layanan.

HSDPA menggunakan kanal baru yang dlimiki oleh 3G yaitu high speed downlink shared channel (HS-DSCH). Kanal tersebut beroperasi berbeda dengan jalur 3G yang ada. Penambahan kanal berupa implementasi adaptive modulation and coding (AMC), hybrid automatic repestreQuest (HARQ), fast packet schedulling, retransmission protokol and fast cell selection (FCS), yang dikendalikan medium access control (AMC) di node yang berkemampuan 3G.HS-DSCH difungsikan untuk proses downlink data ponsel. Sedangkan untuk proses uplink, kemampuan HSDPA tak bisa sebesar downlinknya, yang secara teori hanya mampu sampai 2 Mbit/s.

Jaringan HSDPA secara fisik memiliki 3 kanal, yakni high speed data physich downlink shared channel (HS-PDSC), high speed shared control channel (HS-SCCH) dan high speed dedicated physical control channel (HS-DPCCH). HS-PDSCH mengadopsi adaptive modulation QPSK (quadrature phase shift keying) atau algoritma fase modulasi yang sudah ada, dan 16 QAM (quadrative amplitude modulation) yakni empat aplitude dan empat fase yang memungkinkan pengunaan data rate tinggi dobawah kondisi jaringan radio yang bermacam-macam.
Keuntungan HSDPA
Penambahan data rates menghasilkan keuntungan bagi operator untuk membuka area baru yang luas, nilai tambah dan kaya akan service untuk media. Keuntungan user dengan kecepatan mencapai megabyte per detik memungkinkan untuk:

  1. mengakses internet dengan cepat,
  2. mudah mendownload email dan menambahkan attachment,
  3. straming audio dan video,
  4. mengambil gambar resolusi tonggi,
  5. multiplayer game,
  6. TV broadcasting,
  7. dapat menangani kebutuhan secara korporat.
HSDPA sampai saat ini sudah digunakan di 39 negara dan 64 operator. Ke depan HSDPA masih dapat dikembangkan ke arah HSUPA (high speed uplink packet access). Jika teknologi HSDPA tergolong ke dalam teknologi 3.75G maka HSUPA masuk dalam generasi 3.75 (3.75G).
HSUPA

LG Electronics dan Samsung, dua nama yang kerap berseliweran di jagad telekomunikasi, seperti berada dalam lintasan sebuah pacuan. Keduanya berlomba-lomba menjadi yang terdepan. Perhelatan International Telecommunication Union (ITU) Telecom World 2006 di Hong Kong yang lalu dipilih dua vendor ini untuk menunjukkan uji coba teknologi HSUPA.

Apa yang baru dari HSUPA? Teknologi ini menawarkan kecepatan downlink yang setara dengan kecepatan teknologi HSDPA. Yang membuatnya berbeda adalah secara teori kecepatan uplink HSUPA ini mampu mencapai 5,67 Mb per detik alias 15 kali lebih cepat dibanding HSDPA.

Samsung mengatakan teknologi HSUPA yang tengah dikembangkan ini dapat menghasilkan kecepatan hingga 2 Mb per detik. Kecepatan akses pasti berbanding lurus dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengunduh data. Makin cepat akses makin sedikit waktu download-nya. HSUPA ini misalnya. Lima file MP3 sebesar 3 MB dapat diunduh dalam waktu lima menit menggunakan jaringan 3G. Dengan HSUPA, lima file tadi bisa diunduh hanya dalam waktu satu menit saja.

Tertarik menjajal kemampuan HSUPA? LG akan memperkenalkan handset yang mendukung teknologi HSUPA pada paruh kedua 2007. Sedangkan Samsung tengah merangkul kerja sama untuk pendistribusian produk HSUPA sistem paket dengan operator seluler Orange dan operator besar di Eropa lainnya.


Generasi keempat (4G)

Namun teknologi 4G kini belum bisa didefinisikan secara jelas. Sampai sekarang belum ada standarisasi untuk 4G yang telah disepakati oleh para pihak yang berkompeten di bidang tekonologi komunikasi tanpa kabel ini.

Ada beberapa pihak yang mempromosikan jaringan WiMax sebagai 4G padahal bukan merupakan teknologi 4G sebenarnya, karena lebih merupakan varian baru dari teknologi tanpa kabel (wireless) seperti halnya dengan FireWire dan Bluetooth. Sebenarnya fitur-fitur 3G yang ada pun diusung oleh 4G, hanya saja memiliki kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi bisa mencapai 20 MBps (Megabytes per detik) di lapangan, 10 kali lipat daripada 3G yang maksimal 2 Mbps (pada prakteknya di lapangan sebenarnya baru mencapai 384 Kbps pada kondisi bergerak).

Padahal di atas kertas kecepatan 4G sesungguhnya bisa mencapai 100 Mbps di lingkungan luar rumah (bergerak), sedangkan 1GBps pada kondisi tidak bergerak (statisioner). Tidak hanya itu, kapasitas data yang melalui jaringan 4G akan jauh lebih besar daripada 3G sehingga pengunduhan data yang mencapai puluhan, bahkan ratusan MB akan mudah dicapai dalam waktu singkat. Sebagai contoh, dengan ponsel 3G, kita baru dapat mengunduh klip video dan klip musik yang berdurasi tidak begitu panjang.

Sedangkan dengan 4G yang akan berbasis jaringan IP sepenuhnya, kita tidak hanya dapat mengunduh satu film utuh ke dalam satu ponsel 4G ketika sedang bergerak, juga menyaksikan tayangan gambar televisi yang berkualitas tinggi (high definition TV content) dan menyaksikan lawan bicara kita yang terlihat jelas dan mulus geraknya, tidak tersendat-sendat seperti sekarang dengan 3G melalui video calling. Tidak hanya itu, kita juga dapat melakukan video chat dengan mudah. Juga fitur video conferencing yang bisa lebih dari 2 situs yang dilakukan secara simultan.

Dengan kata lain, trafik multimedia akan dominan pada penggunaan teknologi 4G di masa mendatang. Tentu saja browsing internet tanpa kabel akan makin lebih cepat dan makin menyenangkan tanpa terganggu dengan waktu tunda (delay time) karena masalah kongesti pada lalu lintas data di jaringan di masa kini akan teratasi dengan teknologi 4G. Yang paling menyenangkan karena biaya untuk menikmati fitur-fitur 4G itu diprediksi akan lebih murah daripada sekarang karena biaya untuk mengaplikasikan teknologi 4G akan lebih murah daripada teknologi 3G ataupun HDSPA (3,5 G).

Melihat arah pengembangan 4G yang dilakukan oleh para pihak baik pakar akademis maupun perusahaan teknologi TI dan komunikasi seperti Ericcson, Alcatel, Nokia, Siemens AG, Lucent, Samsung, Nortel, Motorola, LG dan sebagainya, dapat dikatakan teknologi 4G adalah teknologi yang siap dinikmati kita dalam waktu tidak akan begitu lama karena teknologi tersebut dijanjikan akan dikomersialisasikan antara tahun 2010 hingga 2015 mendatang seperti yang telah direncanakan oleh perusahaan selular Jepang, NTT Docomo.

Berbicara tentang 4G yang masih merupakan ujicoba di laboratorium dan beberapa wilayah terbatas seperti di Cina yang memutuskan mengadopsi 4G untuk infrastruktur jaringan tanpa kabel daripada 3G, para peneliti bahkan telah memikirkan teknologi 5G. Konon dengan teknologi 5G, kita dapat berbicara dengan lawan bicara tanpa mengeluarkan suara, cukup hanya menggerakkan bibir saja. Juga dapat berkomunikasi dengan indera lainnya seperti indera penciuman. Sebagai contoh, kita dapat mencium bau masakan jika lawan bicara kita sedang memasak atau sedang berada di dapur.

Yang jelas teknologi 5G masih merupakan teori dan akan masih lama sekali untuk diwujudkan secara nyata. Di sisi lain, teknologi 4G walau belum ada standar yang sudah disepakati, sudah mulai menunjukkan bentuk nyata dan bukan mustahil dalam 10 tahun mendatang sudah dapat dinikmati di negara kita. Dari apa yang kita lihat, jelas sekali bahwa teknologi komunikasi itu yang membuat dunia terasa mudah terjangkau dan hampir tidak ada batas-batasnya.


Download



Setiap ebook yang dapat anda download gratis di sini merupakan kumpulan free ebook yang murni dapat di temukan secara bebas dan gratis di internet. Untuk sementara ini ebook yang dapat terkumpul, yang nantinya akan ada banyak lagi.

Dengan adanya free ebook ini semoga dapat bermanfaat untuk anda.

Download Ebook Gratis

1. Cara Praktis Membuat Blog Dalam 3 Menit
2. Kamus Istilah Blogger
3. Petunjuk Pintar 1 Jam Menguasai Internet
4. Tips Trik Ekstrim Melamar Pekerjaan
5. Kumpulan Fakta Unik
6. Bagaimana menawarkan sesuatu tanpa penolakan


Senin, Maret 02, 2009

Menara BTS Cantik Hadir Mulai 2009



Menara BTS dengan bentuk seperti tabung ini menggunakan tenaga angin sebagai sumber energinya. Selain cantik, ramah ling

Bentuk menara BTS (Base Tranceiver Station) mulai tahun depan mungkin tak hanya berupa kerangka besi seperti banyak dijumpai saat ini. Ericsson Indonesia, salah satu vendor infrstruktur telekomunikasi yang memasok perelngkapan jaringan ke sejumlah operator tengah melakukan uji coba menara dengan desain yang lebih cantik dan tidak merusak pemandangan.
"Saat ini, kami masih melakukan uji coba pilot project tower tube di Sumatera, semoga saja pada 2009, sudah dapat digunakan dan sudah ada operator yang berminat," ujar senior radio solution engineer Ericsson Indonesia, Donny Meirantika dalam media workshop di Hotel Mason, Kota Parahyangan, Bandung, Sabtu (13/12).
Kelak operator dapat memilih bentuk BTS sesuai keinginannya. Mau sekadar tabung cerobong, sampai seperti bidak catur atau menyerupai mata bor pahat. Bahkan di Arab Saudi, tower keluaran Ericsson tersebut ada yang berbentuk seperti menara yang biasa kita jumpai di Indonesia.
Menara konvensional berupa kerangka empat kaki yang ditopang fondasi beton masih dipakai namun dibungkus lembaran logam yang menutupnya. Dengan demikian, tangga yang biasanya ada di bagian tengah tertutup. Praktis menara tidak mudah disalahgunakan orang yang tidak bertanggung jawab. "Dengan bentuk seperti ini, BTS tidak lagi akan dapat dimanfaatkan orang untuk bunuh diri," ujar Donny.
Selain itu, ruangan di bagian dalam dapat dipakai untuk menyimpan peralatan teknik maupun bahan bakar cadangan. Bila sebelumnya dibutuhkan pagar pembatas untuk melindungi peralatan fuel dari pencuri, dengan bentuk BTS ini tidak diperlukan lagi. "Itu sangat praktis dan efisien," lanjutnya.
Ericsson juga mempersipakan BTS dengan tenaga terbarukan. Setelah merilis BTS bertenaga matahari, maupun baterai, rencananya Ericsson juga akan mengadaptasi pasokan kebutuhan energi BTS dari tenaga angin. Di beberapa negara, tower model ini sudah mulai diaplikasi, seperti di Amerika Serikat, Hongkong, dan Swedia.
Namun, jajaran petinggi Ericsson Indonesia belum berkenan buka mulut lebih jauh tentang kapan rencana ini akan direalisasi. "Kita tunggu saja bersama, semoga 2009 sudah dapat kita jumpai," tutur Vice President Marketing Ericsson Indonesia, Hardyana Syintawati.


Konfigurasi BTS



Konfigurasi BTS harus mempertimbangkan beban, perilaku pelanggan, struktur permukaan, untuk menyediakan cakupan layanan frekuensi radio yang optimum di suatu area. Sehingga akan dihasilkan konfigurasi BTS yang berbeda-beda pula.

Konfigurasi Standar

Semua BTS memiliki identitas sel yang berbeda-beda. Sejumlah BTS (untuk kasus tertentu, sebuah BTS) membentuk suatu lokasi area. Gambar di bawah menunjukkan 3 lokasi area dengan 1, 3, 5 BTS. Sistem yang ada biasanya tidak tersinkronisasi (fine-synchronized), yang mencegah handover yang sinkron di antara semua BTS-nya. Untuk daerah urban dengan pertumbuhan kepadatan trafik, yang dapat berubah dengan cepat, dua konfigurasi berikut lebih layak.

bts1.jpg
Gambar BTS dengan konfigurasi standar

Konfigurasi Sel Payung (Umbrella Cell Configuration)

Konfigurasi ini terdiri dari satu BTS dengan daya transmisi yang tinggi dengan antena yang dipasang tinggi dari permukaan yang bertindak sebagai ” payung” untuk sejumlah BTSS dengan daya transmisi rendah dan diameter yang kecil. Awalnya konfigurasi ini kurang meyakinkan karena prinsip frequency reuse tidak dapat diterapkan untuk frekuensi sel payung di semua sel pada area itu dikarenakan interferensi. Interferensi dengan jarak yang lebih jauh menjadi pertimbangan kenapa menara televisi dan radio yang tinggi tidak diperbolehkan sebagai lokasi untuk antena-antena tidak lama sesudah antena digunakan untuk layanan pada awal pembangunan jaringan.

bts2.jpg
Gambar Sel payung dengan 5 sel yang lebih kecil

Konfigurasi sel payung masih mempunyai keunggulan di dalam situasi tertentu yang mebutuhkan pengaturan beban dan peningkatan jaringan. Sebagai contoh, ketika pengguna di mobil sedang bergerakkan pada kecepatan tinggi melalui suatu jaringan dengan sel-sel yang kecil, diperlukan proses handover yang hampir berurutan dari satu sel ke sel berikutnya adalah untuk memelihara suatu panggilan yang aktif. Situasi ini bisa diterapkan di setiap lingkungan kota yang banyak jalan raya. Akibatnya, handover ini menghasilkan peningkatan beban pensinyalan yang sangat berpengaruh untuk jaringan seperti halnya juga penurunan kualitas sinyal yang tak tertahankan bagi pengguna akhir. Pada sisi lain, sel kecil diperlukan untuk mengatasi tuntutan akan coverage di sebuah lingkungan kota.

Untuk mengatasi dilema ini maka digunakan sel kecil dan besar bersama-sama, yang disebut dengan konfigurasi sel payung (umbrella cell configuration). Sel payung dapat terlindung dari kelebihan beban akan trafik dari pergerakan pelanggan yang cepat. Kecepatan gerak pelanggan dapat ditentukan untuk memenuhi akurasi akan perubahan dari parameter timing advance (TA) atau delay propagasi. Nilainya terus diperbaharui di BSC setiap 480 milidetik (ms) dengan data yang disiapkan di dalam pesan MEAS_RES. BSC memutuskan apakah menggunakan sel payung atau sel-sel kecil lainnya. GSM belum memberi spesifikasi untuk konfigurasi sel payung, yang memerlukan fungsi tambahan di dalam BSC, yang merupakan fungsi pabrikan yang bersifat propietary.

Konfigurasi BTS Sektorisasi (Ko-lokasi)

Konfigurasi ini mengacu pada suatu formasi di mana beberapa BTS ditempatkan di titik lokasi tower yang sama. Dalam sebuah antenna di BS (Base Station), radiasi akan menyebar secara merata pada semua arah. Penambahkan beberapa antenna pengarah, akan membagi sektor tersebut menjadi 3 hingga 6 area yang lebih jelas (Masing-masing 120 dan 60 derajat atau mungkin 180 derajat), sehingga setiap sektor dapat beroperasi dengan frekuensi yang sama.

Masing-masing sel memiliki satu buah BTS yang digunakan untuk mengirim / menerima sinyal dan juga untuk interkoneksi antara Mobile Station (MS) dengan BSC (Base Station Controller). Sel masih dibagi lagi menjadi beberapa sektor, dimana misalnya Telkomsel dan beberapa operator lain biasanya membagi satu buah sel menjadi tiga sektor. Masing-masing sektor memiliki satu buah antena.

bts3.jpg

Gambar Antena Tiga Sektor

Biasanya diterapkan dengan beberapa BTS dengan sedikit TRX dan daya transmisi rendah. Seperti konfigurasi sel payung, ini digunakan kebanyakan di area dengan kepadatan populasi tinggi atau lingkungan urban. Konfigurasi ini mempunyai keuntungan sebagai berikut :

  • Cocok untuk suatu koneksi serial dari Abis-Interface. Konfigurasi ini berpotensi untuk menyelamatkan biaya-biaya untuk jalur akses ke BSC. Kalau tidak, maka lokasi yang jamak juga perlu jalur sambungan yang banyak.
  • Dari sudut pandang radio, keuntungan penggunaan sel 120 adalah frequency reuse di dalam satu sektor (satu arah) yang tidak menimbulkan interferensi dibanding dengan konfigurasi sel dengan antena omnidirectional.
  • Sektorisasi mempermudah permintaan akan frekuensi karena mampu meningkakan kapasitas dengan tetap mempertahankan radius sel dan memperkecil banyaknya sel.

bts4.jpg
Gambar Cakupan suatu area dengan 3 BTS sektorisasi. Setiap BTS melingkupi bagian 120

Karena penyektoran mengurangi wilayah cakupan sel dari kelompok kanal tertentu, banyaknya handoff juga akan bertambah. Namun demikian, jika banyak BTS baru yang menggunakan metode penyektoran ini, maka proses handoff MS dari satu sektor ke sektor lain dapat dilakukan tanpa campur tangan MSC.Kenyataannya, handover yang tersinkronisasi (fine-synchronized) mudah diterapkan di antara sel-selnya. Dengan demikian proses handoff seringkali sudah bukan merupakan masalah pokok lagi. Namun demikian, satu kanal dari tiap BTS harus digunakan untuk pembuatan BCCH (Broadcast Control Channel).

Refferensi

  • Krisna Murti, Dhany., “Operasi Jaringan Seluler GSM”, Laporan Kerja Praktek di PT. Telekomunikasi Selular Regional Network Operation Bali-Nusra, Departemen Elektro, Universitas Indonesia, 2005.
  • Heine, Gunnar., “GSM Networks: Protocols, Terminology, and Implementation”, Artech House, London, 1999.
  • Sunomo, “Pengantar Sistem Komunikasi Nirkabel”, Grasindo, 2004.

[MI.net Feb’06]


Prinsip Kerja Sistem GSM



FDMA Pada Jaringan GSM
Frequency Division Multiple Access (FDMA) adalah teknik transmisi analog yang digunakan untuk komunikasi mobile phone, yang band frekuensinya dialokasikan ke jaringan dibagi menjadi beberapa sub-band atau kanal . Masing-masing kanal frekuensi dapat membawa pembicaran suara dan data digital, dan satu kanal akan digunakan user untuk durasi pemanggilan. Menggunakan FDMA, user dapat berbagi band yang tersedia tanpa resiko interferensi dari pemanggilan yang bersamaan.
International Telecommunication Union ( ITU ) yang menangani telekomunikasi dan spektrum radio internasional, mengalokasikan jaringan GSM 900 dan DCS 1800 seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel Alokasi Jaringan GSM 900 dan DCS 1800


TDMA Pada Jaringan GSM

Time Division Multiple Access (TDMA) adalah teknik transmisi digital yang digunakan untuk komunikasi mobile phone, yang kanal frekuensinya dibagi ke beberapa timeslot yang berurutan dan setiap user dialokasikan ke timeslot yang berbeda dengan user lain . Sebagai contoh, setiap kanal di GSM dibagi menjadi 8 timeslot, jadi ada 8 user yang berbeda dapat menggunakannya secara bersamaan.
Pada jaringan GSM terdapat hirarki TDMA yang terdiri dari dua jenis kanal yaitu kanal fisik dan kanal logika seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar Hirarki TDMA

Kanal Fisik (Physical Channel )
Kanal fisik pada didefinisikan sebagai suatu timeslot. Frame TDMA ini membawa satu frekuensi pembawa (frequency carrier) yang berisi 8 timeslot dengan bandwidth 200 kHz dan disebut Kanal Frekuensi Radio (Radio Frequency Channel). Frame TDMA ini terdiri dari 8 timeslot. Timeslot ini yang digunakan untuk membawa data dan suara, setiap timeslot mempunyai kecepatan 0,577 ms, jadi satu frame mempunyai kecepatan 8 x 0,577 ms = 4,615 ms

Kanal Logika (Logical Channel)
Kanal logika digunakan sebagai informasi (suara, signalling dan data). Kanal logika terbagi menjadi dua yaitu kanal bersama (Common Channel–CCH) dan kanal kontrol yang ditentukan (Dedicated Channel–DCH). Kanal–kanal tersebut mempunyai fungsi yang berbeda–beda seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar Pembagian Kanal Logika

1. Common Channel (CCH), digunakan untuk membawa informasi signalling dan sinkronisasi data. Kanal ini terbagi menjadi dua yaitu :

a. Broadcast Channel (BCH)
BCH berfungsi untuk mengirimkan dari BSS – MS (downlink) mengenai network yang akan diakses oleh MS. Kanal ini terbagi menjadi tiga, yaitu :
• Frequency Correction Channel (FCCH), digunakan untuk mensinkronisasikan frekuensi yang digunakan MS dan frekuensi yang dipakai oleh BTS tempat MS berada.
• Sinchronization Control Channel (SCCH), digunakan untuk sinkronisasi MS ke timeslot pada saat MS mendapatkan frekuensi pembawa.
• Broadcast Control Channel (BCCH), digunakan untuk informasi tentang BTS yang digunakan oleh MS, seperti frekuensi hopping, frekuensi yang digunakan, informasi neighbour cell, dan lain–lain.
b. Common Control Channel (CCCH)
CCCH digunakan untuk mengirimkan informasi jaringan dari MS ke BTS dan sebaliknya (uplink – downlink).Kanal ini terbagi menjadi tiga, yaitu :
• Paging Channel (PCH), digunakan MS sebagai isyarat adanya panggilan.
• Random AccessChannel (RACH), digunakan MS untuk merespon panggilan dari PCH dan meminta alokasi kanal.
• Access Grant Channel (AGCH), digunakan BSS untuk mengalokasikan kanal bagi MS.
2. Dedicated Channel (DCH), digunakan MS untuk pembentukan panggilan.Kanal ini terbagi menjadi dua yaitu :
a. Traffic Channel (TCH)
TCH digunakan untuk membawa informasi suara dan data. Tabel 2.2 menjelaskan jenis-jenis TCH.

Tabel Jenis TCH


b. Dedicated Control Channel (DCCH)
DCCH digunakan untuk membawa informasi antara MS ke BTS dan sebaliknya (unplink – downlink). Kanal ini terbagi menjadi tiga yaitu :
• Stand Alone Dedicated Control Channel (SDCCH), digunakan untuk mengalokasikan TCH seperti pada proses registrasi / autentikasi dan digunakan dua arah (uplink dan downlink).
• Slow Associated Control Channel (SACCH), digunakan untuk regulasi daya (power control) dari MS, perhitungan jarak MS ke BTS (Timing Advance) dan digunakan dua arah untuk uplink dan downlink.
• Fast Associated Control Channel (FACCH), digunakan untuk mengirimkan sinyal selama proses akan melakukan pembicaraan (call setup), mengirimkan perintah – perintah handover dari BSC, mengakhiri pembicaraan setelah hubungan terputus dan digunakan dua arah untuk uplink dan downlink.


Nokia Siemens Pamer BTS Hemat





INILAH.COM, Jakarta- Nokia Siemens Networks (NSN) meluncurkan sistem BTS baru Flexi Multiradio Base Station (FMBS). BTS ini membuat evolusi dari 2G dan 3G ke LTE lebih cepat, lebih ramah lingkungan dan lebih hemat biaya.

“Flexi Multiradio Base Station membuat evolusi jaringan lebih cepat, lebih ramah lingkungan dan lebih hemat biaya dari sebelumnya. Berkat integrasi, Flexi Multiradio Base Station menghadirkan tiga teknologi dalam satu BTS dengan ukuran kurang dari 75 liter,” kata Head of Radio Access business NSN Marc Rouanne, dalam keterangan tertulis yang diterima INILAH.COM di Jakarta, kemarin.

BTS Multiradio Flexi terbaru memperluas teknologi yang didukung sehingga mencakup GSM/EDGE, WCDMA/HSPA dan LTE. Semua teknologi ini dapat bekerja sama dalam satu unit BTS.

Flexi Multiradio Base Station memenuhi kebutuhan operator 2G dan 3G baru dan yang sudah beroperasi. Operator dapat menggunakan infrastruktur yang ada untuk mengimplementasikan teknologi melalui upgrade software sederhana ke 3G atau LTE.

Flexi Multiradio terbaru kompatibel dengan Flexi Base Station yang sudah ada. Produk ini juga cocok bagi operator-operator CDMA yang ingin bermigrasi ke WCDMA/HSPA atau LTE.

Bagi operator yang ingin mengatasi masalah biaya, teknologi multiradio dalam satu BTS berarti Opex lebih rendah. Karena kunjungan ke lokasi BTS berkurang, logistik lebih sederhana, biaya pemeliharaan lebih rendah dan kebutuhan staf terlatih juga berkurang.

Efisiensi energi menjadi kunci penting dalam Flexi Multiradio. BTS terbaru ini membutuhkan konsumsi daya paling rendah di pasaran. Satu lokasi BTS 3 sektor yang menjalankan GSM/EDGE dan WCDMA/HSPA sekaligus hanya perlu daya 790W, dengan output per sektor hanya 60W untuk kapasitas dan cakupan maksimal.

Produk kecil dan ringan itu juga cukup kokoh untuk penggunaan di luar ruangan bahkan tanpa penutup atau AC, sehingga lebih meminimalkan dampak terhadap lingkungan.

from : inilah.com

Teknologi
11/02/2009 - 09:34


Sabtu, Februari 28, 2009

Base Transceiver Station (BTS)




Base Transceiver Station (BTS) adalah bagian dari network element GSM yang berhubungan langsung dengan Mobile Station (MS). BTS berhubungan dengan MS melalui air-interface dan berhubungan dengan BSC dengan menggunakan A-bis interface. BTS berfungsi sebagai pengirim dan penerima (transciver) sinyal komunikasi dari/ke MS serta menghubungkan MS dengan network element lain dalam jaringan GSM (BSC, MSC, SMS, IN, dsb) dengan menggunakan radio interface. Secara hirarki, BTS akan terhubung ke BSC, dalam hal ini sebuah BSC akan mengontrol kerja beberapa BTS yang berada di bawahnya. Karena fungsinya sebagai transceiver, maka bentuk pisik sebuah BTS pada umumnya berupa tower dengan dilengkapi antena sebagai transceiver, dan perangkatnya. Sebuah BTS dapat mecover area sejauh 35 km (hal ini sesuai dengan nilai maksimum dari Timing Advance (TA)). Fungsi dasar BTS adalah sebagai Radio Resource Management, yaitu melakukan fungsi-fungsi yang terkait dengan :

  • meng-asign channel ke MS pada saat MS akan melakukan pembangunan hubungan.
  • menerima dan mengirimkan sinyal dari dan ke MS, juga mengirimkan/menerima sinyal dengan frekwensi yang berbeda-beda dengan hanya menggunakan satu antena yang sama.
  • mengontrol power yang di transmisikan ke MS.
  • Ikut mengontrol proces handover.
  • Frequency hopping

  • Module Transmitter/Receiver : Module ini berfungsi untuk menerima dan mengirimkan signal dari/ke MS dan dari/ke BSC. Proces-proces digital sinyal processing seperti modulasi dan demodulasi juga dilakukan di modul ini.
  • Module Operation dan Maintenance (O&M) : Module ini paling tidak terdiri dari sebuah central unit yang mengatur kerja seluruh perangkat BTS. Untuk tujuan penaturan kerja ini, module ini dihubungkan dengan BSC dengan menggunakan channel O&M. Hal ini menagakibatkan module O&M dapat memproces command yang diberikan dari BSC atau dari MSC dan melaporkan hasilnya. Module O&M juga memiliki sebuah Human Machine Interface (HMI) yang memungkinkan petugas untuk melakukan maintenance dan control BTS secara lokal (tanpa melalui BSC atau MSC).
  • Module Clock : Module ini sebenarnya termasuk bagian dari module O&M. Fungsi module ini adalah sebagai module yang men-generate dan mendistribusikan clock. Walaupun lebih banyak keuntungannya bila menggunakan reference clock dari sinyal PCM pada A-bis interface, tapi penggunaan internal clock di BTS adalah sebuah keharusan (mandatory), hal ini khususnya diperlukan bila sebuah BTS harus di-restart dalam kondisi standalone (tanpa koneksi ke BSC) atau ketika terjadi link failure yang mengakibatkan clock PCM-nya tidak tersedia.
  • Filter Input & Output : Module ini terdiri dari filter input dan filter output yang fungsinya untuk membatasi bandwidth sinyal yang diterima dan ditarnsmisikan oleh BTS. Filter input pada dasarnya adalah sebuah wideband filter yang non-adjustable (tidak dapat diatur-atur). Artinya pada arah uplink (dari MS ke BTS) filter input ini akan menerima dan melewatkan semua sinyal yang berada dalam rentang frekwensi GSM, baik itu frekwensi GSM 900, DCS 1800, ataupun PCS 1900. Berbeda dengan filter output yang berkerja pada arah downlink (dari BTS ke MS). Filter output adalah sebuah filter wideband yang adjustable, dimana filter ini akan membatasi bandwidth sinyal yang ditansmisikan oleh BTS dalam rentang 200 kHz. Filter output juga dapat mengatur besar frekwensi yang akan digunakan oleh BTS untuk men-transmisikan sinyal ke MS. Perubahan besarnya frekwensi yang digunakna ini dapat dilakukan melalui module O&M.
source:
mobileindonesia.net
mblank.multiply.com


Pengukuran Kualitas Sinyal GSM-BTS dengan Drive Test



Tes Pengukuran Kualitas Sinyal GSM-BTS


MENU UTAMA TEMS

Menu Preference & Control MS Logging

Menu Log Setup & Remote Control

Menu External Connections & Cell selections


Contoh Drive Test pd Handover


Test Handover & Test Scan Frequency


Test Scan Frequency



Informasi Drive Test (1)




RX QUAL


FUNGSI DRIVE TEST


Jumat, Februari 27, 2009

Sejarah Telekomunikasi Indonesia



Pada dasarnya telekomunikasi telah dikuasai asing sejak zaman kolonial yaitu saat di mana Telkom baru berdiri. Indosat pun sejak awal lahirnya pada 1967 tak luput dari peran pemodal asing. Baru pada 1980 pemerintah Indonesia mengambil alih seluruh saham Indosat, sehingga menjadi BUMN.

Namun, ternyata asing kembali lagi bermain pada 1993. Saat itu, kebijakan pemerintah RI menempatkan Telkom dan Indosat sebagai dua penyelenggara telekomunikasi lokal yang melakukan praktik monopoli.

Karena keterbatasan dana yang dimiliki pemerintah maupun operator telekomunikasi, maka pembangunan infrastruktur telekomunikasi khususnya jaringan telekomunikasi tetap (fixed wireless) lokal saat itu dilakukan melalui pengikutsertaan modal asing.

UU No. 3/1989 tentang Telekomunikasi dan PP No. 8/1993 serta Kepemenparpostel No. 39/1993 tentang Kerja Sama Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi Dasar memungkinkan kerja sama antara Telkom atau Indosat dengan perusahaan lain dalam penyelenggaraan jasa telekomunikasi dasar.

Ketiga regulasi itu menetapkan bahwa kewajiban kerja sama antara badan penyelenggara dan badan lain dalam penyelenggaraan telekomunikasi dasar dapat berbentuk usaha patungan (join venture), kerja sama operasi (KSO) atau kontrak manajemen (KM).

Memang benar seperti dinyatakan dalam PP No. 20/1994 tentang pemilikan saham dalam perusahaan yang didirikan dalam rangka PMA: penanaman modal bidang usaha telekomunikasi dapat dilakukan oleh penanam modal asing patungan asal kepemilikan peserta Indonesia minimal 5% dari seluruh modal yang disetor. Akan tetapi, dalam schedule of commitment traktat multilateral WTO, Indonesia menyatakan bahwa kepemilikan asing atas saham penyelenggara jasa telekomunikasi dasar dapat sampai 35%.

Pada jasa telekomunikasi bergerak, sesuai dengan UU No. 3/1989, dewasa ini penyelenggara jasa telekomunikasi bergerak adalah perusahaan lain baik asing atau lokal yang bekerja sama secara patungan dengan Telkom atau Indosat atau kedua-duanya.

Dari hal tersebut, lahirlah operator-operator seluler baru seperti Satelindo (patungan antara Indosat, Telkom, dengan operator GSM di Jerman DeTeMobil) dan Telkomsel (patungan antara Telkom, Indosat, PTT Telecom Netherlands dan Setdco Megacell Asia)

Hal yang berbeda dilakukan XL, karena operator tersebut lahir tanpa ada dua perusahaan incumbent baik Telkom dan Indosat di dalamnya, sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 3/1989.

Mulai dekade 2000-an, banyak bermunculan operator baru baik seluler atau pun telepon nirkabel tetap seperti Mobile-8 Telecom, PT bakrie Telecom, PT Natrindo Telepon Seluler, PT Hutchison CP Telecommunication, PT Smart Telecommunication, dan PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia.

Kebanyakan operator baru tersebut lebih mengandalkan tarif untuk menggenjot pemasaran dibandingkan dengan memperluas dan meningkatkan kualitas jaringan. Sebagian besar malah tidak memiliki base transceiver station melainkan menumpang di menara telekomunikasi milik operator lain yang sudah lama berdiri.

Pada 2004, telah mulai muncul operator 3G, meski pemberian lisensinya sedikit kontroversial. Pemerintah telah memberikan izin secara gratis dengan harapan memperoleh pendapatan secara bertahap seiring berkembangnya operator 3G. Izin layanan 3G pertama diberikan kepada PT Cyber Access Communication (CAC) pada 2003 setelah menyisihkan sebelas peserta lainnya dalam sebuah beauty contest.

CAC yang pada Februari lalu 60% sahamnya diambil alih oleh Hutchinson mendapatkan alokasi pita lebar 15 Mhz. Alokasi frekuensi yang diterima CAC merupakan yang terbesar dibandingkan dengan operator lain.

Lisensi untuk 3G melalui beauty contest ini bisa jadi merupakan yang pertama sekaligus yang terakhir dalam sejarah industri telekomunikasi di Tanah Air. Hal ini karena pemerintah segera membuat kejutan pada kuartal pertama 2004 dengan memberikan lisensi kepada Lippo Telecom dengan pita lebar 10 Mhz.

Sementara pada periode 1999-2003 izin untuk menyelenggarakan layanan telekomunikasi pada spektrum frekuensi layanan generasi ketiga (1.900 Mhz-2.100 Mhz) juga meluncur. Lisensi tersebut diantaranya untuk PT Wireless Indonesia, Indosat Starone, Telkom Flexi, dan Primasel masing-masing dengan pita lebar 5 Mhz.

Izin untuk layanan seluler CDMA-EVDO maupun CDMA-1X inilah yang belakangan menimbulkan tumpang tindih dengan pita frekuensi yang hendak digunakan untuk layanan generasi ketiga Wideband CDMA. Hal ini karena baik 3G dengan teknologi Wideband CDMA dan CDMA menggunakan frekuensi yang saling berkomplementer.

Layanan generasi ketiga Wideband CDMA dalam spektrum frekuensi di Indonesia bekerja pada pita 1.920 Mhz hingga 1.980 Mhz. Sementara CDMA1X bisa beroperasi pada pita 1.930 Mhz hingga 1.990 Mhz. Standar ITU mensyaratkan 3G hanya bisa bekerja pada spektrum yang terbatas yakni 60 Mhz.